Dengan menggabungkan antara arti bacaan dan himpunan atau kumpulan,
dalam menelusuri makna kalimat Al-Qur'an, bisa dapatakan titik temu,
bahwa ketika seorang membaca Al-Qur'an, ia telah mengumpulkan
huruf-huruf kalimat dalam suatu rangkaian yang utuh, lalu melafalkannya
dengan lisanya, dalam bentuk kalimat atau kata yang sempurna, sehingga
enak didengarnya, nampak menjadi sebuah bangunan yang kuat saling
mendukung, tak tergoyahkan. Dari membaca akan lahir pemahaman. Dari
pemahaman akan lahir amal. Dengan demikian peranan nampak bahwa membaca
merupakan urutan pertama dalam membangun ilmu pengetahuan, dan
selanjutnya untuk membangun sebuah peradaban.
Pengajian Ramadhan :
MAKNA AL-QUR'AN Apa arti kalimat
Al-Qur'an? Apa asal katanya ? Adakah Al Qur'an sendiri telah menyebutkan
dirinya dengan nama Al Qur'an ? Di dalam Al Qur'an pernyataan nama ini,
bisa ditemukan di banyak tempat. Tapi bukan maksudnya di sini untuk
mengkalkulasi semua ayat yang terdapat didalamnya kalimat Al-Qur'an.
Cukuplah dengan menyebutkan beberapa contoh, sebagai bukti : Dalam
(QS:7:204) : " Dan apabila dibacakan Al Qur'an maka dengarlah dan
perhatikalah ". Dalam (QS:15:87) : " Dan sesungguhnya Kami telah berikan
kapadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang, dan Al-Qur'an yang
agung ". Dalam (QS:56:77) : " Sesungguhnya Al-Qur'an ini bacaan yang
sangat mulya ". Dalam (QS:85:21) : " Bahkan yang didustakan mereka itu
ialah Al-Qur'an yag mulya".
Bila kata Al Qur'an, merupakan
masdar (infinitif) dari kata " qara'a " yang berarti membaca, maka
artinya " bacaan ". Allah berfirman : ( innaa 'alainaa jam'ahu
waqur'anah ), Qur'anah di sini berarti qira'atuhu yakni mebacanya. Dalam
konteks ini, membaca bisa dimaksudkan untuk diri sendiri. Seperti yang
terdapat dalam (QS:16:98) : " Maka apabila kamu membaca Al-Qur'an
hendaknya kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang
terkutuk ". Atau membaca untuk orang lain, seperti yang terdapat dalam
(QS:17:106) : " Dan Al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan
berangsur-angsur agar kamu mebacakannya perlahan-lahan kepada manusia
dan Kami menurunkannya bagian demi bagian ".
Dr. Shalah Al
Khalidi, seorang ahli dalam ilmu-ilmu Al-Qur'an kontemporer, menyebutkan
bahwa Al-Qur'an dengan makna bacaan, itu lebih kuat, berdasarkan
dalil-dalil yang disebutkan di atas. ( lihat Hadzal Qur'an, oleh Dr
Shalah Al-Khalidi, Darul Manar, Oman, 1993, hal:19 ). Rahasia penamaan
Al-Qur'an dengan arti bacaan, adalah karena membaca Al-Qur'an merupakan
ibadah. Dari An Nu'man bin Basyir ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda : "
Yang paling utama dari ibadah umatku adalah membaca Al-Qur'an ".
(HR:Albaihaqi dalam kitab Syu'abul Iman). Hadits ini sekalipun dha'if,
tapi dikuatkan oleh hadits sahih diriwayatkan Imam Muslim, dari Abu
Umamah Al Bahili ra. Ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda
: bacalah Al-Qur'an, karena ia pada hari kiamat nanti akan datang untuk
memberikan syafaat kepada para pembacanya ". ( Sahih Muslim, Daru
Ihya'u trutats Al Arabi, Bairut, Jilid:I, hl:553, Hadits:804).
Bila
kata Al-Qur'an berasal dari kata " qara'a " denga makna menghimpun atau
mengumpulkan, ini juga terdapat dalam (QS:2:228) dengan kata " quru' ".
Allah berfirman : " Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (
menunggu ) tiga kali quru' ". Sekalipun para ulama fikih berbeda
pendapat dalam maksud " quru " di sini, apakah, maksudnya " tiga kali
haid " atau " tiga kali suci ", tapi mereka bersepakat bahwa menyebut
kondisi haid atau kondisi suci dengan istilah quru', dimaksudkan agar
wanita menyelesaikan iddahnya dengan mengumpulkan semua kondisi itu
sampai selesai.
Dengan menggabungkan antara arti bacaan dan
himpunan atau kumpulan, dalam menelusuri makna kalimat Al-Qur'an, bisa
dapatakan titik temu, bahwa ketika seorang membaca Al-Qur'an, ia telah
mengumpulkan huruf-huruf kalimat dalam suatu rangkaian yang utuh, lalu
melafalkannya dengan lisanya, dalam bentuk kalimat atau kata yang
sempurna, sehingga enak didengarnya, nampak menjadi sebuah bangunan yang
kuat saling mendukung, tak tergoyahkan. Dari membaca akan lahir
pemahaman. Dari pemahaman akan lahir amal. Dengan demikian peranan
nampak bahwa membaca merupakan urutan pertama dalam membangun ilmu
pengetahuan, dan selanjutnya untuk membangun sebuah peradaban. Allah
SWT, Maha tahu akan hakikat ini. Karenanya yang pertama kali diturunkan
adalah surat Al-Alaq, yang dimulai dengan kata " iqra' ", perintah untuk
membaca. Rasulullah SAW, pada waktu itu memang tidak bisa mebaca dan
menulis. Karenanya disebut Ummi.
Lalu kalau direnungkan secara
mendalam ayat-ayat yang pertama kali diturunkan itu, akan ditemukan
bahwa ada dua perintah iqra' : Pertama, " iqra' bismirabbikalladzi
khalaq " bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan ). Kedua, iqra'
warabbukal akram ( bacalah dan tuhanmulah yang paling Pemurah ).
Maksudnya bahwa kegiatan membaca harus tegak di atas keikhlasan kepada
Allah semata, kejujuran untuk membesarkanNya, menyebarkan ajaranNya, dan
memberikan pemahaman yang benar terhadap manusia, sehingga dengannya
manusia mendapatkan kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar